Langsung ke konten utama

BOLEHKAH PATUNG GANESHA DITEMPATKAN PADA ALING - ALING PINTU MASUK RUMAH?


Patung Ganesha pada aling - aling pintu masuk rumah (sumber : google)


Proses umat hindu di Bali menjalankan kepercayaan, seperti ada hal “baru”. Bahkan seperti menjadi tren, yaitu pemujaan Ganesha, dengan memasang patung ganesha di pintu masuk atau aling – aling rumah. Namun ada semacam kontroversi. Cocokah Ganesha di pintu gerbang?

Jero Mangku Janji menyebut hal itu tidak layak. Karena Dewa Ganesha sebagai manifestasi Dewa Siwa. Baginya tempat yang layak adalah di utamaning Mandala (areal utama) dari pekarangan yaitu Merajan. “Karena manifestasi dari Siwa, posisinya di utamaning mandala posisinya di sebelah palinggih anglurah,” jelas Jero Mangku Janji.

Mangku Janji memberikan penjelasan pemasangan Ganesha di pintu masuk rumah tidak terlepas dari tren, yang sedang berkembang.  Sehingga budaya pemasangan patung Ganesha di pintu masuk rumah dengan cepat diadopsi oleh masyarakat Bali secara umum.

Baginya, pemujaan Ganesha ada ketika menjalankan ritual upacara Rsi Gana.

Upacara Rsi Gana ini dijelaskan Mangku Janji, sesungguhnya adalah sebuah upacara yang didedikasikan atau dilakukan untuk memuja Dewa Ganesha, serta memberikan persembahan berupa caru kepada rencangan Dewa Ganesha. “Sehingga tidak mengganggu, dan bisa memberikan kedamaian kepada keluarga sang pelaksana upacara Rsi Gana tersebut,” lanjutnya.

Jadi, dalam konteks agama, dipaparkan Mangku Janji yang dikenal saat ini, setiap rumah tanggal di Bali diwajibkan untuk melakukan pemujaan kepada Dewa Ganesha, minimal sekali dalam kurun waktu tertentu. Hal ini disebutkan Mangku Janji tidak terlepas dari Filosofi Dewa Ganesha yang dalam keyakinan sebagian besar masyarakat Hindu melambangkan kebijaksanaan, maupun kercerdasan sehingga mampu membedakan salah benar untuk mencapai kesempurnaan dalam hidupnya.

Ilustrasi Dewa Ganesha (sumber : google)

Dewa Ganesha dilambangkan dengan bentuk manusia yang memiliki kepala gajah. “Selain bernama Ganesha, dewa ini juga disebut dengan Ganapati atau Winayaka,” tambahnya.

Sebagai manifestasi Dewa Siwa yakni dewa utama dalam Mitologi Hindu, maka Ganesha adalah dewa yang memiliki sifat suci. Sehingga untuk patung Ganesha ini, menurut Mangku Janji tidak layak ditempatkan di aling-aling rumah sebagai penjaga rumah, melainkan di utamaning mandala. “Bagi saya tidak layak ditempatkan di aling – aling rumah. Namun di merajan atau sanggah,” urainya.

Jika ditempatkan di luar areal utamaning mandala, maka fungsi patung Ganesha dikatakan Janji sebaiknya hanya digunakan sebagai pelengkap dekorasi saja.

“Sehingga patung ganesha yang dipasang di pekarangan rumah tidak diupacarai dan fungsi patung ganesha tersebut bukan sebagai tempat pemujaan, hanya dekorasi atau hiasan,” ungkapnya.

Selain Mangku Janji, pemasangan patung ganesha di aling-aling rumah juga dinyatakan kurang tepat oleh Ketua PHDI Bali, Prof I Gusti Ngurah Sudiana. Menurut Prof Sudiana, tren memasang patung Ganesha di aling-aling rumah kurang tepat.

Hal ini dikatakan Sudiana tidak terlepas dari peran Dewa Ganesha yang dalam mitologi Hindu disebutkan jika Dewa Ganesha memiliki peran yang sangat penting bagi ketenteraman surga sebagai istana para dewa. “Ini karena fungsi para dewa adalah sebagai penjaga ketentramanan Surga,” jelasnya.

Karena hal itulah, maka penempatan Dewa Ganesha tidak sepantasnya di aling-aling rumah. Selain rumah tersebut bukan surga, aling-aling rumah atau pintu masuk rumah menurut Sudiana bukanlah kawasan Suci. Karena aling-aling rumah menurutnya sangat rentan terkontaminasi dengan hal-hal yang negatif, baik itu secara sekala dan niskala.

Terkait penempatan patung Ganesha ini, Sudiana menyebutkan jika umat Hindu ingin melakukan pemujaan terhadap Dewa Ganesha dengan cara memasang patung Ganesha, harus ditempatkan di tempat yang suci yakni diareal pemerajan tepatnya berdampingan dengan pelinggih angglurah yang berada di bucu kaja kauh (sisi barat laut).

Ketentuan ini dikatakan Sudiana diatur dalam lontar Ganapati, dimana dalam lontar tersebut disebutkan jika penempatan patung Ganesha di dalam rumah harus berada di areal utamaning mandala dan menjaga dari sisi barat laut. “Sehingga jika umat ingin memuja Dewa Ganesha, hendaknya patungnya ditempatkan pada sisi Barat Laut, dan patung itu bisa difungsikan sebagai sarana pemujaan, sehingga bisa dilakukan rutial penyucian yaitu pasupati,” lanjutnya. 

sumber : https://baliexpress.jawapos.com/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKNA UPACARA NYAMBLEH DI BALI

UPACARA NYAMBLEH Penyamblehan serangkaian Upacara Nangluk Merana Desa Pakraman Padangsambian (sumber : google) Perkembangan agama Hindu Bali merupakan suatu akulturasi dari masuknya agama-agama besar di Indonesia. Sejarah menunjukkan bahwa agama Hindu perkembangannya berawal dari India, lanjut Jawa dan yang paling teguh untuk tetap pada agama nenek moyang adalah penganut agama Hindu di Bali. Pengalaman agama Hindu di Bali terhadap ajaran agamanya, dengan jelas nampak dalam pelaksanaanya. Upacara merupakan salah satu kerangka agama Hindu dengan penggunaan banten (sesajen) yang bervariasi sesuai dengan tujuan upacara maupun variasi berdasarkan desa kala patra. Upacara dilaksanakan bertujuan untuk mendekatkan diri dengan Tuhannya (Ida Sang Hvang Widhi Wasa). Proses akulturasi nampak di Bali antar adat-istiadat termasuk kearifan lokal, Hinduisme sudah menyatu : seperti contoh upacara pashu yandnya di India/korban suci menggunakan binatang, terutama darahnya. Hal tersebut juga dinyatakan da...

MAKNA DARI OGOH - OGOH

  Ilustrasi Ogoh - Ogoh (sumber : google) Pengertian Ogoh-Ogoh Dan Fungsinya. Ogoh-ogoh itu sendiri diambil dari sebutan ogah – ogah dari bahasa Bali yang artinya sesuatu yang digoyang-goyangkan. Pada tahun 1983 merupakan bagian penting dalam sejarah ogoh-ogoh di Bali, pada tahun itu mulai dibuat wujud-wujud bhuta kala berkenaan dengan ritual Nyepi di Bali. Ketika itu ada keputusan presiden yang menyatakan Nyepi sebagai hari libur nasional. Semenjak itu masyarakat mulai membuat perwujudan onggokan yang kemudian disebut ogoh-ogoh, di beberapa tempat di Denpasar. Budaya baru ini semakin menyebar ketika ogoh-ogoh diikutkan dalam Pesta Kesenian Bali ke XII. Buat orang awam ogoh-ogoh adalah boneka raksasa yang diarak keliling desa pada saat menjelang malam sebelum hari raya nyepi (ngerupukan) yang diiringi dengan gamelan bali yang disebut Bleganjur, kemudian untuk dibakar. Ogoh-ogoh adalah karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hi...

SIAPAKAH SULINGGIH (PANDITHA) ITU?

Seorang Sulinggih (sumber : google) Sulinggih adalah orang yang telah mendapatkan penyucian melalui upacara yang disebut madiksa. Seorang walaka yang telah didiksa mendapatkan kedudukan sebagai sulinggih atau sadhaka. Sulinggih berasal dari kata Su artinya utama/mulia, linggih berarti kedudukan. Sulinggih artinya mendapat kedudukan yang utama/mulia di masyarakat. Mendapatkan kedudukan tinggi karena beliau telah mencapai kesucian lahir batin dalam tingkatan dwijati. Dwijati artinya lahir dua kali. Lahir pertama adalah dari rahim ibu. Lahir kedua adalah lahir dari weda. Lahir kedua, sebagai manusia suci tanpa cacat/cela. Sebagai seorang dwijati, maka wujud, status, sesana yang lalu (walaka), karma wasana walakanya dianggap tidak ada atau sudah mati. Beliau lahir kembali dalam lembaran hidup baru. Sehingga wujud (penampilan), nama, status, sesana, dan karma wasana yang baru. Sehingga untuk itu dalam diksa pariksa (pemeriksaan calon sulinggih/diksawan) terlebih dahulu dinyatakan tidak ceda...